Mu’amalah

Pengerian

Mu’malah secara harfiah berarti “ pergaulan “ atau hubungan antar manusia. Dari penertian tersebut tersebut dapat diambil bahwa mu’amalah yaitu pergaulan dan perbuatan manusia diluar ibadah. Yakni merupakan pergaulan dan hubungan antar sesama manusia. 1

Mu’amalah ialah segala aturan agama yang mengatur hubungan antara sesame manusia, baik yang seagama maupun tidak seagama, antara manusia dengan kehidupannya dan antara manusia dengan alam sekitarnya atau alam semesta. 2

Fikih menurut istilah adalah ilmu yang membahas tentang hokum syara yang praktis yang diambil dari dalil yang terperinci. Dan fikih mu’amalah adalah fikih yang mengatur hubungan antara individu dalam sebuah masyarakat.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Musthofa Ahmad al-Zahra “ hukum hukum yang berkaitan dengan perbuatan manusia dan hubungan sesama manusia dalam urusan kebendaan, hak hak kebendaan serta penyelesaian perselisihan diantara mereka “.3

Dengan pengertian tersebut fikih mu’amalah dapat dipahami sebagai hokum perdata yang terbatas hanya pada hokum kebendaan dan perikatan.

Ruang Lingkup

Dalam hal ini fikih mu’amalah secara garis besar membahas tentang harta, hak hak kebendaan, dan hukum perikatan.

Pertama Hukum Benda 4

ada tiga pokok pembahasan dalam bab ini:

Pertama; konsep harta, meliputi pembahasan tentang pengertian harta, unsure unsurnya dan pembagian jenis jenis harta.

Kedua: konsep hak, meliputi pembahasan tentang pengertian hak, sumber hak, perlindungan dan pembatasan hak, pembagian jenis jenis hak.

Ketiga: konsep tentang hak milik, meliputi tentang pembahasan hak milik, sumber sumber pemiikan, dan pembagian macam macam hak milik.

Konsep Umum Akad 5

konsep umum akad asa asas umum akad akan membahas mengenai:

  1. pengertian akad dan tasharruf

  2. unsure unsur akad

  3. syarat masing masing unsur

  4. macam macam akad

Aneka Macam Akad Khusus 6

Dalam masalah akad (transaksi) mu’amalah ada beberapa macam yaitu:

  • jual beli (al bai’)

  • sewa menyewa (al ijarah)

  • utang piutang (al qard)

  • penanggungan (al kafalah)

  • gadai (rabn)

  • bagi hasil (mubarabah)

  • persekutuan (musyarakah)

  • pinjam meminjam (ariyah)

  • penitipan (wadi’ah)

Akad

  • Pengerian

Akad secara bahasa berarti al rabth: “ikatan, mengikat” : “al ratb yaitu menghimpun atau mengumpulakan dua ujung tali dan mengikatkan salah satu pada lainnya hingga keduanya bersambung dan menjadi seutas tali yang satu” .

sebagaimana terdafat pada Qs. Al Maidah ayat: 1

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَوْفُواْ بِالْعُقُودِ أُحِلَّتْ لَكُم بَهِيمَةُ الأَنْعَامِ إِلاَّ مَا يُتْلَى عَلَيْكُمْ غَيْرَ مُحِلِّي الصَّيْدِ وَأَنتُمْ حُرُمٌ إِنَّ اللّهَ يَحْكُمُ مَا يُرِيدُ

artinya:

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu . Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu. (Yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya.”

Dalam temologi hokum islam “ Akad adalah pertalian antara ijab dan qabul yang dibenarkan oleh syara yang enimbulkan akibat hokum terhadap objeknya “

Ijab dalam pengertian akad adalah ungkapan atau kehendak melakukan perikatan oleh satu pihak biasanya disebut pihak pertama, sedangkan qabul adalah pernyataan untuk menggambarkan pihak yang lain yang biasa disebut pihak kedua, menerima pernyataan ijab. maksud term, yang diperbolehkan oleh syara’ adalah bahwa setiap akad tidak boleh bertentangan dengan syariat islam, dan merupakan batasan normative yang sangat prinsip dalam fikih mu’amalah.7

Dalam devinisi diatas mengenai akad merupakan tindakan hukum, dengan demikian akad tersebut mempunyai konsekuensi hukum (hak dan kewajiban) yang mengikat antara keduanya yaitu yang melakukan ijab dan qabul dan yang terkait langsung maupun yang tidak langsung terhadap akad tersebut. Tindakan hukum dibedakan menjadi dua yaitu :

  • yang berupa perbuatan

  • yang berupa perkataan

Tidak semua perkataan seseorang merupakan akad. Perkataan seoarang tergolong akad apabila kadua belah pihak atau orang yang ijab pihak pertama dan kemudian dikobulkan oleh pihak kedua atau beberapa pihak sepakat untuk saling mengkaitkan diri.8

Rukun akad dan syarat syaratnya

Menurut fukoha’ jumhur rukun akad terdiri atas, yairu :

  • Al Aqidain, pihak yang terlibat langsung dengan akad

  • Maballul’aqd, yakni objek akad, yakni sesuatu yang hendak diakadkan.

  • Sighat alaqd, yakni pernyataan kalimat akad, yang lazimnya dilaksanakan dengan ppernyataan kalimat ijab dan qabul

Rukun menurut pengertian istilah fuqaha dan ahli ushul adalah “ sesuatu yang menjadikan tegaknya dan adanya sesuatu sedangkan ia sifatnya internal (dakhiliy) dari suatu yang ditegakanya “ 9

Dari pegertian diatas dapat diambil garis besarnya rukun akad adalah kesepakatan dua keinginan/ kehendak (ijab dan qabul).

Syarat menurut pengertian istilah fuqaha dan ahlul ushul adalah “ segala sesuatu yang dikaitkan pada tiadanya sesuatu yang lain, tidak adanya sesuatu yang lain, sedang ia bersifat eksternal” 10

Jadi dapat diambil pengertian bahwa syarat harus ada karena tiadanya syarat mengharuskan tiadanya masyrut (sesuatu yang disyaratkan) sedangkan adanya syarat tidak mengharuskan adanya masyrut (sesuatu yang disyaratkan)

Sebab menurut pengertian istilah fuqaha dan ahlul ushul adalah “ setiap peristiwa yang mana syara’ mengkaitkannya terhadap ada dan tidak adanya suatu yang lain sedang ia bersifat eksternal” 11

Dengan demikian rukun, syarat dan sebab merupakan bagian dari akad . perbedaannya rukun bersifat internal sedangkan syarat dan sebab bersifat eksternal.

Rukun akad atau dengan istilah lain menurut Mustafa Ahmad Al Zarqa yaitu muqawimat akad (unsur penegak akad) : 12

  1. Al qaidain

  2. Mabalul ‘aqad (objek akad)

  3. Maudbu’ul ‘aqad (tujuan akad)

  4. Shighat aqad (ijab dan qabul)

Pertama, Al qaidain adalah kedua belah pihak yang melakukan akad. Dari kegiatan akad tidak setiap orang bisa melaksanakannya, ada yang tidak dapat melakukan akad apa pun (orang yang cacat jiwa, cacat mental (safih), anak kecil yang belum mumayyiz); ada yang sebagian cakap melakukan akad tertentu (anak yang suadah mumayyiz, namun mereka belum mencapai batas akil balig) anak ini bisa melakukan tasharuf yang bermanfaat, seperti menerima hadiah, wasiat. Adapun tasharuf yang menimbulkan resiko seperti jual beli, persewaan, tidak dapat dilakukan oleh mumayyiz, dan ada yang bisa melakukan setiap akad (orang yang memenuhi persyaratan ahliyah atau setiap orang mukalaf).

Seoarang aqid (orang yang melakukan akad) harus memenuhi prinsip kecakapan (ahliyah) melakukan akad untuk diri sendiri, atau karena mendapat kewenangan (wilayah) melakukan akad menggantikan orang lain/perwakilan (wakalah).

  • Ahliyah (pantas atau cakap)

Menurut istilah fuqaha dan ahlul ushul ahliyah adalah “ kecakapan seseorang untuk memiliki hak dan dikenai kewajiban atasnya, dan kecakapan untuk melakukan tasharruf. Ahliyah dibedakan menjadi dua yaitu :

  1. Ahliyah wujub (kecakapan memiliki hak) adalah kecakapan seseorang untuk mempunyai sejumlah hak kebenaran. Seperti hak waris, hak ganti rugi atas kerusakan harta miliknya. 13

  2. Ahliyah ada’ (kecakapan bertindak) adalah kecakapan seseorang untuk melakukan tasharuf dan dikenai pertanggungan jawab atas kewajiban yang berupa hak Allah maupun hak manusia. 14

  • Wilayah (kewenangan)

Meurut fuqaha dan ahli ushul wilayah adalah kekuasaan hokum (al suthab al syar’iyah) yang mana pemiliknya dapat bertasharruf dan melakukan akad dan menunaikan segala akinat hokum yang ditmbu;kannya.

Wilayah merupakan syarat kelangsungan akad dan bagi timbulnya akibat hukum. Wilayah kewenangan akad hanya dimiliki orang yang cakap bertindak secara sempurna. Jadi akad yang dilakukan orang yang tidak mempunyai wilayah (kewenangan berakad) adalah tidak sah dan sama sekali tidak menmbulkan hukum.15

  • Wakalah (perwakilan)

Secara bahasa wakalah berarti al tahfidl (menjaga) dan al tafwidh (menyerahkan). Menurut istilah wakalah adalah pengalihan kewenangan perihal harta dan perbuatan tertentu dari seseorang kepada orang lain untuk mengambil tindakan tertentu dalam hidupnya. Wakalah harus dinyatakan melalui akad (ijab dan qabul) misalnya “ aku mewakilkan urusan ini kepadamu “ dan “ saya bersedia mewakili anda “. Yang demikian merupakan rukun wakalah. 16

Seseorang yang dibebankan akad boleh meminta imbalan (upah) karena disini berlaku akd perburuhan. Jika dalam wakalah upah tidak ditentukan dengan jelas maka diberlakukan hukum adapt seperti memberikan komisi 10 % dari harga jual barang tersebut.

Wakalah merupakan sebuah akad, maka muwakil dan wakil harus memiliki persyaratan kecakapan bertindak secara sempurna. Objek wakalah harus dinyatakan secara jelas kepada wakil, dan tujuan wakalah tersebut tidak termasuk yang dilarang syara.

Kedua, mahallul aqad (obyek akad) adalah sesuatu yang dijadikan obyek akad dan dikenakan padanya akibat hokum yang ditimbulkan. Syarat yang harus dipenuhi obyek akad menurut fuqaha yaitu : 17

  • Telah ada ketika berlangsung akad.

Tidak sah mengakadkan benda yang tidak ada, seperti menjual tanaman sebelum tumbuh, menjual anak hewan didalam perut induknya.

  • Objek akad harua mal mutaqawwim
  • Dapat diserah terimakan ketika akad berlangsung

Pada perinsipnya para fuqaha kecuali imam malik setuju dengan persyarayan ini. Yakni bahwa objek akad harus dapat diserahkan secepat mungkin setelah akad berlasung. Sedang imam malik tidak mengharuskan adanya kemampuan menyerahkan pada saat akad berlangsung, dalam hal akad tabarru’. Seperti menghibahkan kambing yang masih keliaran di kebun.

  • Objek akad harus jelas dan dikenali oleh pihak akid

“Diriwayatkan dari abu hurairoh r.a sesungguhnya nabi Muhammad SAW melarang jual beli gharar dan jual beli bassah”.(HR. imam lima). Bassah adalah …………..

  • Objek akad harus suci, tidak najis atau mutanajis

Ketiga, maudhu’ al aqad (tujuan akad) adalah tujuan dan hukum yang mana suatu akad disyariatkan tujuan tersebut. Untuk satu jenis akad tujuan yang hendak dicapainya satu, dan untuk jenis akad yang lainnya berlaku tujuan yang berbeda. 18

Keempat, shigat akad (formula akad) adalah kesepakatan dua kehendak dan kesepakatan tersebut lazimnya terjadi melalui formula akad. Shigat akad terdiri dari ijab dan qabul. Ijab adalah pernyataan pertama yang dinyatakan oleh salah satu dari muta’aqidain yang menceminkan kesungguhan kehendak untuk mengadakan perikatan. Qabul adalah pernyataan oleh pihak lain setelah ijab yang mencerminkan persetujuan atau persepakatan terhadap akad.19

Fikih mu’amalah menetapkan hukum yang harus dipenuhi dalam setiap shigat akad, yaitu : dinyatakan dengan ucapan yang jelas, persesuaian antara ijab dan qabul, ijab dan qabul mencerminkan kehendak masing masing pihak secara pasti/mantap, dimana kedua belah pihak dapat dihadirkan satu sama lain dalam satu majlis. 20

Kehendak berakad (Al Iradah Al Aqdiyah) 21

Shigat akad (ijab dan qabul) merupakan pernyataan kehendak masing masing. Kehendak dibedakan menjadi dua yaitu: kehendak al bathinah adalah niat. Sedangkan kehendak al dhahirah adalah ungkapan lahir atau formulanya (shighat) yang menggambarkan kehendak batin seseorang. Jadi jika akad dilakukan hanya dengan kehendak al dhahirah, tanpa disertai denga kehendak al bathinah, maka akad tersebut nihil atau tidak menibulkan akibat hukum.beberapa jenis kondisi akad nihil :

  • Akad yang dinyatakan pada kondisi akal tidak sadar dan anak yang tidak mumayyiz.
  • Pernyataan akad tidak dapat dipahami maknanya.
  • Pernyataan akad untuk tujuan pengajaran
  • Pernyartaan akad diungkapkan dengan maksud gurauan.
  • Akad dinyatakan secara khatha’ (kesalahan tidak disengaja)
  • Iltija’ah, yaitu ketika dua orang sepakat untuk melakukan rekayasa akad ddengan tujuan untuk menghindari penganiayaan seseorang terhadap hak miliknya.
  • Ikrah (paksaan) yaitu keadaan seorang dipaksa menyatakan akad yang tdak sesuai dengan iradahnya.

Hal hal yang merusak iradah

Adapun hal yang mencerai kerelaan atau kehendak adalah sebagai berikut :

  • Ikrah (paksaan)22

Ikrah adalah memaksaan orang lain berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu melalui tekanan atau ancaman. Ikrah dibedakan menjadi dua; pertama,al ikrah al tam dimana seseorang kehilangnan kekuasaan dan ihtiyar, seperti paksaan yang disertai ancaman membunuh dan melukai anggota badan; kedua, al ikrah al naqish, yaitu paksaan dengan ancaman yang tidak membahayakan jiwa atau anggota badan lainnya, seperti ancaman pemukulan ringan, penahanan, atau perampasan sebagian harta.

  • Ghalat (shalah)23

Ghalah (kesalahan) pada objek akad, yakni dimana terjadi ketidak sesuaian materi dari objek akad yang dikehendaki oleh pihak yang melakukan akad seperti membeli sebutir mutiara tapi yang didapatkan sebutir kaca, maka ketidak sesuaian tersebut mengakibatkan akad tersebut batal.

  • Tadlis atau taghrir24

Tadlis (menyembunyikan cacat) atau taghrir (manipulasi) adalah suatu kebohongan atau penipuan oleh pihak yang berakad yang berusaha menyakinkan pihak lainnya dengan keterangan berbeda dengan yang sesungguhnya.

  • AlGhabn 25

AlGhabn adalah pengurangan objek akad dengan jumlah yang tidak sesuai dengan kesepakatan akad, atau jika salah harga atau nilai harga benda yang dipertukarkan tidak setimbang.

Pembagian macam macam syarat akad dan konsekuensi hukumnya 26

Syarat akad dan konsekuensinya dikelompokan menjadi empat macam, yaitu:

Pertama, syarat in’iqad adalah persaratan yang berkenaan dengan berlangsung atau tidak berlangsungnya sebuah akad. Jika tidak terpenuhi akadnya menjadi gagal. Termasuk dalam kategori ini adalah persyaratan akad yang bersifat umum berlaku kepada setiap unsur akad,sebagaimana yang telah disampaikan sebelumnya, dan persyaratan khusus yang berlaku pada akad tertentu. Missal saksi akad nikah.

Kedua, syarat shihhah (sah) adalah syarat yang ditetapkan oleh syara’ yang berkenaan untuk menerbitkan ada atau tidak adanya akibat hokum yang ditimbulkan oleh akad. Jika tidak terpenuhi, akadnya menjadi rusak.

Ketiga, syarat nafadz adalah persyaratan yang ditetapakan oleh syara’ berkenaan berlaku atau tidaknya sebuah akad. Syarat nafadz ada dua, yaitu:

  1. milik atau wilayah, maksudnya orang yang melakukan akad benar benar sebagai pemilik barang atau ia mempunyai otoritas atas objek akad.
  2. objek akad harus terbatas dari hak hak pihak ketiga.

Keempat, syarat lazum adalah persyaratan yang ditetapkan oleh syara’ berkenaan dengan kepastian seebuah akad. Jika akad belum bisa dipastiakan berlakunya seperti ada unsur tertentu yang menimbulkan hak khiyar, maka akad seperti ini dalam kondisi ghairu lazim (belum pasti) karena masing masing pihak berhak menfaskhkan akad.

Pembagian Macam Macam Akad

Pembagian macam dan jenis akad dapat dilakukan dari berbagai asfek dan sudut pandang yang berbeda beda, sebagaimana berukut.

Pertama, Akad Shahih Dan Ghairu Shahih 27

Akad shahih adalah akad yang memenuhi seluruh persyaratan yang berlaku pada setiap unsure akad (‘aqidain, shighatul’aqd, maudbu’ul ‘aqd, dan mahallun ‘aqd). Akibat hokum yang ditimbulkan berlaku semenjak berlangsungnya akad. Misalnya jual beli dlakukan oleh para pihak yang cakap hokum atas mal al-mutaqawwim, dengan tujuan untuk memindahkan hak pemilikan secara sah. Maka setelah berlangsung ijab qabul, seketika itu kepemilikan benda berpindah kepada pembeli, sedang penjual berhak atas pembayaran harga.

Fuqaha hanafiyah dan malikiyah membedakan akad shahih menjadi dua, yaitu

  1. akad nafidz adalah akad yang dilakukan ole orang yang cakap dan mempunyai kewenangan (wilayah) akad. Akibat hukum yang ditimbulkan berlaku seketika berlangsungnya akad.

  2. akad mauquf adalah yang dilakukan oleh orang cakap namun tidak mempunyai kewenangan melaksanakan akad. Akibat hukum yang ditimbulkan digantungkan (mauquf) pada izin dari pihak yang berwenang.

Akad nafidz dibedakan menjadi dua, yaitu pertama, akad lazim adalah akad yang mana yang salah satu dari masing masing pihak tidak dapat mengajukan faskh kecuali dengan kesepakatan pihak lainnya. Kedua, akad ghairu lazim adalah akad dimana kedua belah pihak atau salah satunya mempunyai hak faskh tanpa perlu kesepakatan pihak lain. Kedua, akad ghairu shahih adalah akad yang sebagian unsurnya atau sebagian rukunnya tidak terpenuhi. Seperti akad jual beli bangkai dan daging babi.

Dalam konsep fuqaha hanafiyah dan akad ghairu shahih dibedakan menjadi dua, yaitu

  1. akad bathil dalam pandangan fuqaha hanafiyah adalah akad yang cacad rukun dan tujuannya aatu karena prinsip dan sifat akadnya bertentangan dengan ketentuan syariat, seperti akad orang gila.

  2. akad fasiq adalah akad yang pada perinsipnya tidak bertentangan dengan syara namun terdapat sifat sifat tertentu yang dilarang oleh syara yang dapat menimbulkan cacadnya irodah, seperti adanya unsure penipuan dan paksaan. Sekalipun telah terjadi serah terima, pihak yang dirugikan dapat mengajukan pembatalan akad baik secara langsung maupun melalui hakim, dengan dua syarat, yaitu: pertama, bendanya masih utuh sebagaimana adnya sebelum terjadi serah teriama; kedua, benda tersebut belum ditasharufkan dengan pihak lain.

Dari segi kelaziman (kepastian hokum) dan dari segi dapat atau tidaknya menerima upaya faskh, akad dibedakan menjadi empat macam:

  1. akad yang lazim yng tidak dapat dikenakan fasakh. Seperti akad nikah

  2. akad lazim yang dapat dikenakan fasakh, maksudnya yang dapat diurungkan melalui iqalah (berdasarkan kesepakatan keduabelah pihak).

  3. akad lazim terhadap salah satu pihak. Seperti akad rahn dan kafalah.

  4. akad yang bersifat tidak lazim terhadap kedua pihak

Kedua, Akad Musamma Dan Akad Ghairu Musamma 28

Sejumlah akad yang disebutkan oleh syara’ dengan terminology tertentu beserta akibat hukumnya dinamakan akad musamma. Sedangkan akad ghairu musamma adalah akad yang mana syara tidak menyebutkan terminology tertentu dan tidak pula menerangkan akibat hokum yang ditimbulkannya.

Ketiga, Dari Segi Maksud Dan Tujuan 29

Dari segi maksud dan tujuan, akad dibedakan menjadi tujuh macam, yaitu

  1. akad al tamlikiyah, yakni akad yang dimaksud sebagai proses peilikan benda maupun pemilikan manfaat.

  2. akad al isqath, yakni akad yang dimaksudkan untuk menggugurkan hak, baik disertai imbalan atau tidak.

  3. akad al ithlaq, adalah akad yang menyerahkan suatu urusan dalam tanggung jawab orang lain, seperti wakalah (perwakilan)

  4. akad al taqyid, yaitu akad yang bertujuan untuk mencegah seseorang bertasharuf, seperti pencabutan kewenangan

  5. akad al tawtsiq, yaitu akad yang dimaksudkan unutuk menanggung piutang seseorang, atau menjaminnya seperti pada akad wakalah

  6. akad al isytirak, yakni akad yang bertumjuan untuk bekerja sama dan berbagi hasil, seperti yang berlaku pada akad syirkah, satu diantaranya adalah mudharabah

  7. akad al hifdh, yakni akad yang dimaksudkan untuk menjaga harta benda, seperti akad wadi’ah (penitipan barang)

Khiyar

Khiyar adalah boleh memilih antara dua, meneruskan aqad jual beli, atau diurungkan, (ditarik kembali tidak jadi jual beli). Diadakan khiyar oleh syara agar kedua orang yang berjual beli dapat memikirkan kemaslahatan masing-masing lebih jauh, supaya tidak akan terjadi penyesalan dikemudian hari, lantaran mersa tertipu.

Khiyar ada tiga macam

  1. Khiyar Majlis 30

Khiyar Majlis, artinya si pembeli dan penjual bolh memilih antara dua perkara tadi, selama keduanya masih tetap ditempat jual beli.

Sabda Rasulullah

البيعان بالخيارمالم يتفرقا…….رواه بخارئ

“dua orang yang berjual beli, boleh memilih akan meneruskan jual beli mereka atau tidak, selama keduanya belum bercerai dari tempat aqad” riwayat Bukhari dan Muslim

Habislah khiyar dengan

  • Memilih keduanya akan meneruskan aqad, apabila memilih salah seorang dari pada keduanya akan terusnya akad habislah khiyar dari pihak dia, tetapi hak yang laimn masih tetap.

  • Dengan terpisah keduanya dan tempat jual beli, arti berpisah, menurut adat kebiasaan. Apabila adat telah menghukum bahwa keadaan keduanya sudah berpisah, tetaplah jual beli antara keduanya, kalau adat mengatakan belum berpisah masih terbukalah pintu khiyar antara keduanya. Kalu keduanya berselisih umpamanya seseorang sudah mengatakan sudah berpisah, sedang yang lain mengatakan belum, hendaklah dibenarkan yang mengatkan belum dengan sumpahnya, karena yang asal belum berpisah.

  1. Khiyar Syarat, 31

Khiyar Syarat, arinya khiyar itu dijadikan syarat dalam waktu aqad oleh keduanya atau salah seorang. Seperti kata si penjual “ saya jual ini dengan harga sekian dengan syarat khiyar dalam tiga hari atau kurang dari tiga hari”.

Khiyar syarat boleh dilakukan dalam segala macam jual beli, terkecuali barang yang wajib diterima ditempat jual beli, barang barang yang riba. Masa khiyar syarat paling lama hanya tiga hari tiga malam, terhitung dari waktu aqad.

انت بالخيارقي كل سلعه ابتعتها ثلاث ليال…..رواه بيهقئ وابن ماجه

Kata beliau kepada seorang laki laki : “engkau boleh khiyar pada segala barang yang engkau beli selama tiga hari tiga malam” riwayat Bahaqi dan Ibnu Majah.

Barang yang terjual itu sewaktu dalam mas khiyar kepunyaan orang yang mensyaratkan khiyar, kalu hanya yang khiyar salah seorang dai mereka tetapi kalau kedua duanya mensyaratkan khiyar, maka barang itu terhenti saja dulu ( tidak dipunyai oleh seorangpun dari pada keduanya). Jika jual beli sudah tetap terusnya barulah diketahui bahwa barang itu kepunyaan pembeli, mulai dari masa aqad tetapi kala jual tidak terus, barang tetap kepunyaan sipenjual. Untk meneruskan jual beli atau tidak hendaknya dengan lafaz yang jelas menunjukan terus atau tidaknya jual beli.

  1. Khiyar ‘Aibi (cacat) 32

yang dimaksud dengan Khiyar ‘Aibi adalah si pembeli boleh mengembalikan barang yang dibelinya, apabila terdapat pada barang yang dibeli itu suatu cacat yang mengurangkan akan yang dimaksud pada barang itu atau mengurangkan harganya, sedang biasanya, barang yang seperti itu baik dan sewaktu aqad, cacat itu sudah ada tetapi si pembeli tidak tau atau terjadi sesudah aqad, yaitu sebelum diterimanya diterimanya : keterangan ; ijma (sepakat ulama mujtahid)

sabda rasullulah :

روت عاءشة رضئالله عنها ان رجلاابتاع غلاماقاقام عنده ماشاءالله ثم وجد به عيبا فخا صمه الي النبي صلي الله عليه وسلم فرده عليه.( رواه احمد وابوداود و الترمذئ)

“Telah meriwayatkan ‘Aisyah : “Bahwasanya seorang laki laki telah membeli seorang budak, budak itu tinggal beberapa lama denga dia, kemudian kedapatan bahwa budak itu ada cacatnya terus dia angkat perkara dihadapan Rasulullah SAW. Putusan dari beliau, budak itu dikembalikan kepada si penjual” Riwayat Ahmad, Abu Dawud dan Turmudzi.

DAFTAR PUSTAKA

A. Masadi, Gufron, fiqih mu’amalah kontekstual, Jakarta, PT RajaGrafindo Persada, 2002

Rasjid, Sulaiman, Fiqih Islam, Jakarta, Attahiriyah, 1976

Zuhdi, Masjfuk, Studi Islam jilid III Mu’amalah, Jakarta, PT RajaGrafindo Persada, 1988

1 Drs. Gufron A. Masadi, M.Ag, fiqih mu’amalah kontekstual, Jakarta, PT RajaGrafindo Persada, 2002, hal 1

2 Drs. H. Masjfuk Zuhdi, Studi Islam jilid III Mu’amalah, Jakarta, PT RajaGrafindo Persada, 1988, hal 2

3 Drs. Gufron A. Masadi, M.Ag, fiqih mu’amalah kontekstual, Jakarta, PT RajaGrafindo Persada, 2002, hal 2

4 ibid, hal 4

5 ibid, hal 4

6 ibid, hal 4

7 ibid, hal 76

8 ibid, hal 77

9 ibid, hal 78

10 ibid, hal 79

11 ibid, hal 80

12 ibid, hal 81

13 Drs. Gufron A. Masadi, M.Ag, fiqih mu’amalah kontekstual, Jakarta, PT RajaGrafindo Persada, 2002, hal 82

14 Drs. Gufron A. Masadi, M.Ag, fiqih mu’amalah kontekstual, Jakarta, PT RajaGrafindo Persada, 2002, hal 83

15 ibid, hal 84

16 ibid, hal 85

17 ibid, hal 86

18 Drs. Gufron A. Masadi, M.Ag, fiqih mu’amalah kontekstual, Jakarta, PT RajaGrafindo Persada, 2002, hal 89

19 ibid, hal 90

20 ibid, hal 91

21 ibid, hal 95

22 ibid, hal 98

23 ibid, hal 99

24 ibid, hal 100

25 ibid, hal 101

26 ibid, hal 101

27 ibid, hal 103

28 ibid, hal 106

29 ibid, hal 107

30 H. Sulaiman Rasjid, Fiqih Islam, Jakarta, Attahiriyah, 1976, hal 275

31 Ibid, hal 276

32 Ibid, hal 277

Posted on Mei 25, 2009, in Fiqh. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: