BAB IV PARAGRAF

Pengertian

Paragraf sering juga disebut alinea. Kata paragraf diserap dari kata ingris paragraph. Kata yang paragraph terbentuk dari kata bahasa Yunani para yang artinya ‘sebelum’, dan grafien yang artinya ‘menulis, menggores’. Dari segi visual, faragraf tampak sebagai penggalan teks. Hal itu ditandai oleh (1) baris pertama biasanya bertakuk dan (2) selalu dimulai dengan baris baru. 1

Dari segi makna, paragraf merupakan satuan informasi yang memiliki pikiran utama sebagai dasarnya. Sebuah paragraf tertangkap oleh pikiran pembaca sebagai penggalan yang utuh dari pikiran pengarang. Sebagai penggalan pikiran, sebuah paragraf terpisah dari paragraf yang lain2

Syarat paragraf

Paragraf yang baik umumnya terdiri atas beberapa kalimat, yaitu kalimat utama dan beberapa kalimat penjelas. Agar terbentuk paragra yang baik, kalimat kalimat itu saling terkait dan pendukung suatu pikiran utama.3

Akhadiah dkk. (1991:148-153) mengungkapkan tiga syarat paragraf yang baik dan efektif, yaitu: kesatuan, kepaduan, dan kelengkapan.4

1. Kesatuan

Paragraf yang baik adalah paragaraf yang hanya memiliki satu pikiran utama, dan paragraf tersebut berfungsi untuk mengembangkan pikiran utama tersebut.5 Oleh katerena itu, kalimat-kaliamat pendukung yang mengembangkan paragraf harus menunjang pikiran utamadan tidak boleh menyimpang dari pikiran utama itu. Jika terjadi penyimpangan, maka kesatuan pikiran dalam paragraf akan rusak dan keterpahaman paragraf akan rendah.

2. Kepaduan

Kaliamat-kaliamt yang terdapat dalam suatu paragraf bukan merupakan kalimat yang masing-masing berdiri sendiri, tapi memiliki hubungan timbal balik dan mendukung satu pikiran utama tertentu.6 Jadi paragraf merupakan banguna dari beberapa kalimat yang saling terkait, urutan pikirannya teratur, dan serasi sehingga memperlihatkan adanya keterpaduan.

Keterpadauan paragraf dibangun dengan memperhatikan dua unsur pokok, yaitu:

  1. Unsur kebahasaan yang digmabarkan dengan pengulangan kata kunci, kata ganti, kata/frasa transisi, dan paralelisme.

  2. Pemerincian dan urutan isi paragraf yang dapat dilakukan secara kronologis (menurut urutan waktu), secara logis (sebab-akibat, akibat-sebab, khusu-umum, umum-khusus), menurut urutan ruang (spasial), menurut proses, dan dapat pula dari9 sudut pandang yang satu kesudut pandang yang lain.

Bentuk lain yang sering digunakan untuk membangun kepaduan paragraf adalah penggunaan kata atau frasa transisi. Kata tau frasa transisi ini berfungsi untuk menghubungkan kalimat-kalimat dalam satu paragraf. Oleh karena itu, kata tau frasa transisi juga disebut ungkapan penghubung.

Macam-macam hubungan antarkalimat dalam paragraf yang dinyatakan denga kata atau frasa transisi.

  1. Hubungan yang menyatakan tambahan kepada suatu yang telah disebut sebelumnya menggunakan kata atau frasa; lebih-lebih lagi, tambahan, selanjutnya, disamping itu, lalu, seperti halnya, juga, lagi pula, berikutnya, kedua, ketiga, akhirnya, tamhan pula, dan demikian juga.

  2. Hubungan yang menyatakan pertentangan dengan sesuatu yang telah disebut sebelumnya menggunakan kata atau frasa: tetapi, namun, bagaimanapun, walaupun demikian, sebaliknya, biarpun, meskipun.

  3. Hubungan yang menyatakan perbandingan mengunakan kata atau frasa: lain hanya, seperti, dalam hal yang sama, dalam hal yang demikian, sebagaimana.

  4. Hubungan yang menyatakan akibat atau hasil menggunakan kata atau frasa: sebab itu, oleh sebab itu, karena itu, jadi, maka, akibatnya.

  5. Hubungan yang menyatakan tujuan dengan kata atau frasa penghubung: supaya, untuk maksud itu, untuk maksud tersebut.

  6. Hubungan yang menyatakan singkatan menggunakan kata atau frasa: pada umumnya, sesunggunya, pendeknya, ringkasnya, secra singkat, seperti sudah disebutkan, misalnya, dengan kata lain.

  7. Hubungan yang menyatakan waktu menggunakan kata atau frasa: sementara itu, segera, beberapa saat kemudian, sesudah itu, kemudian dan sebagainya.

  8. Hubungan yang menyatakan tempat menggunakan frasa penghubung: di sini, di sana, di seberang, dekat, berdekatan dengan, berdampingan dengan, disamping itu (Keraf, 1980:80-81)

3. Kelengkapan

Paragraf yang baik mengandung pikiran utama yang tercermin didalam kalimat utama dan mengandung kalimat-kalimat penjelas. Paragraf seperti itu dapat dikatakan paragraf yang lengkap. Sebaliknya, paragraf yang tidak lengkap itut tidak ditunjang kalimat-kalimat penjelas yang memadai atau hanya dikembangkan dengan pengulangan-pengulangan. Contoh berikut merupakan paragraf yang tidak memnuhi syarat kelengkapan.

Para mahasiswa harus tekun belajar. Mereka harus rajin membaca buku dan menyelasaikan tugas-tugas kuliah.

Paragraf diatas merupakan contoh paragraf yang hanya dikembangkan dengan pengulangan. Pada kalimat pertama, uangkapan tekun belajar diulangi dengan sisnonimnya, yaitu rajin membaca buku dan menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Agar paragraf tersebut memenuhi persyaratan kelengkapan , perkembangannya dapat dilakukan, misalnya, dengan menggunakan alasan atau sebab mahasiswa harus rajin belajar.

1 Drs. Subandi, M.Pd dan Drs. Kusneni Hd, Bahasa Indonesia untuk Pergurusn Tinggi (Purwokerto, 2004), hal. 129

2 Ibid. hal. 130

3 Ibid. Hal. 140

4 Ibid. Hal. 140

5 Ibid. Hal. 140

6 Ibid. Hal. 142

Posted on Juli 15, 2009, in B. Indonesia. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: